Malam Sureq Makassar Gelar Diskusi Kritik Sastra

Malam Sureq Makassar Gelar Diskusi Kritik Sastra

Malam Sureq Makassar Gelar Diskusi Kritik Sastra.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com — Malam Puisi Makassar atau yang karib disebut Malam Sureq menggelar diskusi sastra pada Jumat, 11 Mei 2018. Diskusi yang bertema “Kritik Sastra dalam Kesusastraan Indonesia Kontemporer” yang dibawakan Yusri Fajar, yang merupakan dosen sastra di Universitas Brawijaya Malang.

Acara yang berlangsung pada pukul 14.30 WITA di Kedai Pojok Makassar dipandu oleh Wahyu W. Gandi. Diskusi tersebut banyak membahas soal krisisnya kritik sastra saat ini.

“Kritik sastra Indonesia tidak lepas dari sosok H.B. Jassin,” begitulah Yusri Fajar mencoba memantik diskusi.

Menurut penulis buku Sastra yang Melampaui Batas dan Identitas tersebut, mengakui bahwa kerja kritikus sastra tidallah mudah.

“Kerja kritukus sastra itu tidak mudah. Para kritikus selain memaparkan hasil bacaannya, harus juga memperluas referensi bacaan, serta menggunakan teori yang relevan,” sambungnya.

Lebih lanjut, kritik kontemporer saat ini sangat minim apabila dibandingkan dengan naskah yang beragam. Naskah yang beragam tersebut menuntut para apresiator dan kritikus untuk memperbarui terus bacaannya.

“Masalahnya saat ini adalah jumlah kajian yang terpublikasi secara luas itu minim. Kalau di universitas mungkin banyak, tapi sekadar beredar di kampus. Secara luas, hanya di koran minggu dan jumlahnya sangat terbatas,” lanjutnya.

Diskusi tersebut secara luas menyinggung peran universitas melahirkan para kritikus sastra. Aslan Abidin, seorang dosen dan penyair yang turut hadir dalam diskusi tersebut mengklaim bahwa fakultas sastra tidak serta-merta melahirkan kritukus sastra.

“Ada banyak alumni sastra yang tidak menjadi sastrawan dan kritikus sastra, ada banyak yang kerja jadi pegawai bank. Semestinya negara ini melahirkan Departemen Kritikus Sastra Indonesia agar lebih banyak yang tertarik.” ujar Aslan Abidin, yang juga merupakan seorang akademisi.

Sebagaimana diketahui, diskusi tersebut merupakan sebuah keresahan dari kebanyakan pegiat literasi yang merasakan minimnya kritik sastra.(**)