Di Antara Masa Lalu dan Masa Depan Puisi Indonesia

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Malam Sureq Makassar menggelar diskusi dalam rangka Hari Puisi Nasional yang jatuh pada Sabtu, 28 April 2018.

Diskusi yang digelar di Kedai Pojok Makassar, Jalan Adhyaksa I tersebut mengangkat tema ‘Masa Lalu, Chairil Anwar: Sebuah Masa Depan”.

Adalah Aslan Abidin dan Ibe S. Palogai yang menjadi pemantik dalam diskusi yang dipandu oleh Muhammad Arifin.

Diskusi yang berlangsung pada pukul 19.30 WITA tersebut banyak menyinggung sejarah perkembangan puisi di Indonesia yang tak lepas dari sosok Chairil Anwar serta problematika kepenyairan saat ini.

Aslan Abidin, yang juga seorang penyair, memaparkan bahwa sosok Chairil Anwar adalah sosok yang sangat fenomenal di zamannya, sampai saat ini dan yang akan datang. Lebih jauh, Aslan membandingkan zaman Chairil dengan zaman setelahnya dalam perkembangan puisi.

“Chairil seorang eksintensialis di tengah penjajahan. Dia menulis dengan perlawanan. Dia memberi gambaran bahwa sajak itu runtut, logis, berurutan, dan tidak gelap. Dibandingkan dengan era sekarang yang banyak puisi-puisi gelap.” ujar penulis buku Bahaya Laten Malam Pengantin itu.

Sedang Ibe S. Palogai sendiri banyak membincang perihal perkembangan penulis puisi dan puisi saat ini, terkhusus di Sulawesi Selatan sendiri.

“Ada lubang kosong yang ditinggalkan pendahulu kita.” ujar penulis buku puisi Cuaca Buruk untuk Buku Puisi tersebut.

Lebih lanjut, alumnus Universitas Hasanuddin tersebut banyak berbicara soal penulis era milenial sekarang yang lebih terpaku pada media sosial serta pengikut.

Diskusi yang diselingi dengan pembacaan puisi-puisi Chairil Anwar itu berlangsung cair. Ada banyak gagasan yang bermunculan dari pemantik tersebut.

“Saat ini tidak ada budaya kritik karya di Sulawesi Selatan khususnya.” tambah seorang peserta diskusi.

Perlu diketahui bahwa, tanggal 28 April adalah hari kematian Chairil Anwar yang diperingati sebagai Hari Puisi Nasional.

“Sosok Chairil Anwar sendiri, meski masa lalu, tapi dia adalah masa depan puisi Indonesia.” tambah Aslan Abidin, dosen UNM yang sedang mempersiapkan buku puisi terbarunya. (**)