Sutradara Heran Kok MT Dilabeli “Film Remaja” Hingga Gambarnya Terpotong di Bioskop

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Setelah melalu proses produksi sejak Mei 2017 lalu, hari ini Film ‘Melawan Takdir’ yang disutradarai oleh Quraisy Mathar akhirnya tayang di Bioskop se-Indonesia. Penonton setia pun sangat antusias dan memberi pujian terhadap film karya sineas Makassar tersebut.

Namun, industri film juga tidak lepas dari persaingan. Belakangan dikabarkan bahwa ada insiden dalam pemutaran Film Melawan Takdir di Bioskop XXI Mall Panakkukang dan Mall Ratu Indah Kota makassar.

Pada pemutaran hari pertama, penonton Film Melawan Takdir di Bioskop tersebut komplain karena ada beberapa durasi yang gambarnya hanya setengah layar, bahkan poster yang terpajang juga bertuliskan label ‘Film Remaja’.

“Hari pertama tayang, tiba-tiba saya ditelepon beberapa kawan yang menonton di bioskop XXI Mal Ratu Indah, bahwa gambar filmnya terpotong sana-sini. Bukan hanya itu, poster film Melawan Takdir pun dipasangi label “film remaja” padahal film kami itu lulus sensor untuk semua umur,” ungkap Sutradara Film Melawan Takdir, Quraisy Mathar.

Tidak hanya itu poster yang terpajang di Bioskop 21 Mall Panakkukang diturunkan pada hari kedua, sementara di hari tersebut penonton Film Melawan Takdir bertambah bahkan pihak bioskop harus membuka satu layar studio lagi untuk mengatasi jumlah penonton yang membeludak.

“Keesokan harinya poster dengan label ‘film remaja’ justru tertempel lagi dengan warna yang lebih mencolok dibanding label yang kemarin. Belum selesai di situ, bioskop 21 Mall Panakkukang bahkan mencopot poster film Melawan Takdir di hari ke-2. Padahal dalam dua hari tersebut, tiket film Melawan Takdir habis terjual dan ratusan orang bahkan tak kebagian tiket,” jelas Ais sapaannya dalam akun Faceooknya.

Sementara Eksekutif Produser, Ramli Usman, mengatakan bahwa industri film di Kota Makassar memiliki sistem persaingan yang tidak sehat. Ia mengimbau agar para sineas, khususnya para penggiat Film di Kota Makassar agar bisa menunjukkan profesionalismenya.

“Begitulah industri film, khususnya di Makassar. Masih banyak persaingan yang tidak sehat. Mungkin melihat MT (Melawan Takdir) sudah tayang empat hari dengan kurang lebih 20 ribu penonton membuatnya, ada sebagian orang yang tidak suka, padahal dari awal kehadiran Film MT ini sebagai sebuah mahakarya sineas Makassar untuk kemajuan perfilman Makassar dan perfilman Indonesia,” haturnya kepada djournalist.com, Minggu 22 April 2018.

Ramli menambahkan, “Ya lucu aja jalau film karya anak bangsa di diskriminasi di negeri sendiri. Semoga penyakit iri seperti itu, bisa sineas Makassar lebih sehat lagi,” imbuhnya.

Saat disinggung mengenai jalur hukum, pihal Rumah Produksi Tujuh Lagit cukup tenang dalam menanggapinya. “Sebenarnya bagusnya begitu, tapi kita lebih fokus bagaimana mengawal ini secara bijak,” tandasnya. (**)